Loading...

(Sambungan): Kisah Perjalanan ke Pulau Setan, dan Desa Kapo-Kapo Negeri terpencil di Surga Pulau Cubadak

   
oleh: Inga DeVi
NEXT CHAPTER...

Perjuangan demi melihat pulau-pulau indah di mandeh berlanjut. Bukan hanya pulau indah yang ingin didapatkan tapi pengalaman berharga dan sensasi kemping di pulau yang belum tereksplor menjadi tempat wisata inilah yang menjadi suatu kepuasan tersendiri. Perjalanan yang disongsong dengan 7 motor ini (salah satunya adalah vespa keren), begitu menegangkan karena jalanan yang dilalui terhitung ekstrim. Jalan berupa tanah merah, bebatuan dan lanyah menyebabkan ban motor meleset karena jalan licin ditambah jalan mendaki dan menurun yang sangat mengerikan (rasakan sendiri biar tau ^_^).

Lanjuuuuttttt... setibanya di perkampungan penduduk Mandeh, kami berhenti di salah satu rumah+kadai milik Bapak #%*#%. Bapak inilah yang mengantarkan kami ke tempat tujuan yaitu pulau Setan. Eits...ternyata Bapak ini menyarankan ke pulau Kapo-Kapo, katanya pulau Kapo-Kapo ombaknya lebih besar sehingga lebih asyik kalo mau surfing. Wow! Semuanya berubah pikiran ingin pula mengunjungi pulau tersebut. Kebetulan salah satu anggota rombongan memang suka surfing. Finally kami memutuskan untuk mengunjungi pulau Kapo-Kapo terlebih dahulu.

Sebelum berangkat tidak lupa kami mengabadikan moment bersama anak-anak warga setempat (foto gue yang paling kece donk! liat jilbab kuning :P). Kami mulai menaiki bagan (kapal) untuk cuuusss menuju pulau-pulau. Tujuan pertama adalah pulau Kapo-kapo yang membuat kami penasaran, karena sebelumnya kami belum pernah mendengar nama pulau tersebut ataupun melihat pulau tersebut di peta. On the way Kapo-Kapo island, kami menikmati keindahan pulau Setan Gadang ( Devil Island), Pulau Cubadak (Nangka Island), dan keindahan laut luas dengan bagan yang mampu menampung kurang lebih 25-30 orang, dan tak kalah indahnya ketika melewati hutan bakau sebelum merapatkan bagan ke tepi pulau.

Akhirnya, sampailah kami di Kapo-kapo island ( katanya ). Ternyata telah ada kurang lebih 10 rumah penduduk yang menempati pulau tersebut. Ada beberapa pembangunan yang terlihat di sana. Hempasan ombak menyeringai terdengar dari balik pulau, tak sabar kami ingin menikmatinya. Ketika melihat keadaan pantai, waaahhhhh... benar-benar cocok untuk surfing (recommended by me). Tapi buat camp di sana agaknya kurang asik. Tanya kenapa??? Hayoooo coba tebaaakk. :P

Hasil rapat bersama ( cieee kayak rapat paripurna aje) diputuskan kami melakukan camp di pulau Syetan Gadang. Katanya di sana pulau yang tak berpenghuni alias belum ada yang tinggal di sana. So, kami melanjutkan layaran perahu kami menuju Syeton Gadang Island. Hihiiiii... oke next perjalanan dimulai kembali. Balik kanan grak! Kami berlayar melewati Pulau Cubadak lagi. Liat resortnya dari jauh ajaa alah mak jaaaaaank, keren!!! Mau kesana?? Tunggu tanggal mainnya, Welcome penduduk lokal tanggal 8,9,10 November 2014. Jangan sampe ketinggalan. Liat kapal, lampu-lampu, dan welcome Cubadak Island dari jauh, waahhhh sepertinya asik kesana. But, not now. Maybe next time. :D

Right! Akhirnya smpai di Syaitan Gadang Island. Kapal merapat kami melompat dan yeyeyeyeeee it’s good place for camp! Ngga pake lama, tepat pukul 6 sore tenda segera didirikan oleh para cowo2 keren rombongan ( hahahaha kerennya maksa ). Tiba-tiba, datanglah dua bapak dengan bagan menghampiri camp kami sambil berteriak, “ diak sia nyuruah camp disiko? Koq ndag ado laporan yang masuak ka kami kalo ado yg ka camp di siko?” tanya bapak tersebut. Dengan muka yang sedikit tegang (emangnya listrik), kepalo arak rombongan kami menghampiri kedua bapak tersebut.

“Adiak ko sia? Dari ma? “ tanya bapak itu lagi dengan nada yang sedikit ketus.

Kemudian Yv (nama samaran) menjawab “awak dari Polda pak!”

Jegerrrrrrrrrrrr........

Sontak bapak yang tadinya ketus-ketus udah jadi lemah lembut deh. Wkwkwkwk..

Setelah berembug antara bapak dan kepalo arak rombongan kami dibantu pula dengan bapak yang mengantarkan kami ke pulau Syetan gadang dengan bagan tadi, akhirnya kami diperbolehkan camp di sana. Intinya simple saja, kalo main kesana jangan lupa lapor, oke guys! Siiiippppp

Magrib tibaa... Ambil wudhu air garam -_- . ngga papa lah yaa. Yang penting niatnya lillahi taala. Eh, rakaat terakhir hujan lebat mengguyur bumi. Lari luntang lantung masuk ke tenda. 4 tenda yang didirikan ditutup dengan terpal. Dengan kondisi kelaparan, ujan2an dan memperjuangkan tenda agar tidak kebasahan, sang koki dari rombongan mulai memasak sesuatu. Ahayyyyy! Taraaaa... dalam beberapa menit saja, telah tersedia nasi, telur dadar dan mie goreng. Yummy!! Seadanya kami berbagi makanan karena di sinilah serunya kebersamaan, walaupun makannya dikit, sederhana yang penting hati senang.. yeaaahhhh!

Hujan akhirnya reda juga. Kami mulai keluar tenda. Menghidupkan api unggun dan menyiapkan peralatan pancing ( mau mancing ikan bukan mancing cewe :P ). And then, kami berjalan-jalan di tepi pantai mencari kerang, batu dan wahhhh kami menemukan bintang laut. Selain itu, kami menemukan umang-umang, ubur-ubur, dan binatang sejenis cacing menggali tanah dan masih banyak lagi yang kami temukan. Coba tebak apa lagi yang kami temukan??? Kami menemukan kambing. Kambing menerobos masuk ke tenda, dan segera kami usir. Tapi bukannya menghilang atau pergi, si kambing malah kembali lagi dengan anak dan suaminya. Ckckckck. Sepertinya ini adalah keluarga kambing yang terbuang. :P :D

Next, hari semakin larut. Mendekati jam 9 malam, sang pemancing handal dari Pariaman, ya bang Panda! berhasil mendapatkan ikan karang bergaris merah. Wuiihh sedapnyee...ikanpun kami bakar dan rebutan memakannya ( Hahahaha jaleh se jarang makan ikan yaa?? ). Ada cumi-cumi juga ternyata, gadis berjilbab kuning (gue maksudnya :D) langsung menusuk cumi dengan kayu dan diasap dekat api unggun dan kemudian yang lainnya mengikuti. Sumpeh bau cuminya baru ilang setelah makan permen. Wkwkwk.

Serunya malam itu, tak dapat digambarkan satu per satu. Tapi menikmati malam dengan bersantai dan tiduran di tepi pantai itu benar-benar CAPCAY deh. Hehee..deket api unggun pula. Waah dinginnya malam ngga kerasa ditemani dengan kopi dan kuaci. Eh ngga lupa juga chocolatos mamamia lezatos. Musik regee dengan judul burung gagak dari handphone salah seorang dari kami menemani suasana gelap malam menjadi lebih ramai (kalau pake gitar pasti lebih asyik, lain kali bawa yaaa).

Tak terasa malam semakin larut, jam menunjukan pukul setengah 2 pagi. Para ladies masih stand by curhat di bawah langit berbintang tiduran dengan beralaskan matras “ciek batigo” (yang penting muek), kain pantai ciek batigo lo, sambil nyanyi2 kecil. Aseeeeekkkkk!!! Air pantai yang surut, membuat kami membentangkan matras di bibir pantai. Surutnya cukup jauh kira-kira 20 meter dari tempat kami membentangkan matras. Yah, akhirnya kedinginan juga dan ladies memutuskan masuk tenda. Hehee.. jam 2 teng, masuk tenda grak! Para cowo2 masih betah di luar ajaa. Bak kato Bondan and friends “Yasudahlahhhhh, apapun yang terjadi, everything gonna be ok!”

To be continue.........








   
   
loading...
Loading...
loading...

0 Response to "(Sambungan): Kisah Perjalanan ke Pulau Setan, dan Desa Kapo-Kapo Negeri terpencil di Surga Pulau Cubadak"

Post a Comment

Terima Kasih Telah Berkunjung di Pustaka Pandani
Silahkan komentar anda,


Salam

Irfan Dani, S. Pd.Gr