loading...

Kisah anak-anak perbatasan RI-Filipina yang rindu upacara bendera

loading...
loading...
“Dari sekian murid yang diajarnya, hanya ada satu orang yang mengetahui nama presiden Indonesia …”

Jakarta - Upacara bendera seperti yang kita tahu adalah kegiatan rutin hari Senin di sekolah, mulai dari SD hingga SMA. Saking seringnya upacara tidak jarang juga kita bermalas-malasan mengikutinya sampai rela izin pura-pura sakit agar bisa lolos dari kegiatan ini.

Tetapi tahukah kamu jauh di Sulawesi Utara tepatnya di Desa Kuma, Kabupaten Kepulauan Talaud yang berbatasan dengan Filipina, ada puluhan siswa SDK Ebenhaezer Kuma yang sangat merindukan upacara bendera. Sekolah dasar tersebut memiliki kurang lebih 96 murid dan 7 pengajar. Salah satu pengajarnya adalah sarjana pendidikan geografi lulusan Universitas Negeri Malang, Estina Pravita Sari.

Estina (24) yang asal Mojokerto, Jawa Timur ini menceritakan bahwa semua anak didiknya di sana memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Hanya saja ada beberapa hal yang cukup memprihatinkan untuknya. Salah satunya saat dia menanyakan para murid tentang siapa presiden Indonesia. Dari sekian murid yang diajarnya, hanya ada satu orang yang mengetahui nama presiden Indonesia.

Tidak hanya itu, meskipun semua siswanya mampu berbahasa Indonesia dan hafal lagu Indonesia Raya, namun mereka ternyata tidak tahu bahwa itu merupakan lagu kebangsaan dari negaranya. Selain itu ternyata di SDK Ebenhaezer Kuma tempatnya mengajar, sudah lebih dari 2 tahun tidak dilaksanakan upacara bendera.

“Waktu saya di sana itu upacaranya hanya 2 kali, itu pun kalau bukan saya yang inisiatif pasti nggak diadakan. Waktu itu saya coba ajak anak-anak upacara memperingati Hardiknas dan mereka seneng banget bahkan berebut ingin menjadi petugas upacara,” cerita Estina Jumat (10/4).

apel2

Dia juga menjelaskan, entah mengapa di sekolahnya sudah tidak diadakan upacara bendera lagi. Padahal untuk perlengkapan upacara pun di sana sudah sangat lengkap, bahkan bendera untuk latihan juga sudah ada sendiri. Tapi karena memang sudah lama tidak diadakan upacara, perlengkapan tersebut hanya disimpan saja.

“Sayang juga sih sebenarnya soalnya anak-anak juga sepertinya kangen buat upacara. Sekarang setelah saya kembali ke Jawa semoga saja upacara kembali digalakkan di sana agar anak-anak semakin kenal dengan negaranya.”

Estina sendiri bisa mengajar di sana karena mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu pengajar di sekolah tersebut untuk periode 2013-2014. “Motivasi saya sih sebenarnya ingin mengetahui setimpang apasih kualitas pendidikan di Indonesia ini? Kata orang kan pendidikan di luar Jawa jauh sekali kualitasnya sama Jawa. Jadi waktu punya kesempatan buat ngajar di salah satu kepulauan terluar di Indonesia ya excited,” ungkap Estina. Estina mengikuti program pemerintah yaitu Sarjana Mendidik di Daerah 3T (SM3T).

apel3
Estina Pravita Sari, sarjana pendidikan geografi lulusan Universitas Negeri Malang, menjadi Guru di daerah perbatasan program pemerintah SM3T


Sumber: Batasnegeri
loading...

0 Response to "Kisah anak-anak perbatasan RI-Filipina yang rindu upacara bendera"

Post a Comment

Terima Kasih Telah Berkunjung di Pustaka Pandani
Silahkan komentar anda,


Salam

Irfan Dani, S. Pd.Gr