PENGUMUMAN: Terhitung sejak tanggal 2 April 2016, pustaka.pandani.web.id tidak lagi kami update! kerena seluruh update terbaru kami dialihkan kesitus pak.pandani.web.id. Harap dimakulumi.

Trenyuh Melihat Potret Pendidikan di Pelosok NTT

"Selama Siang..!" sapa serentak anak-anak yang sedang bermain dengan ramah di depan sebuah halaman di atas bukit di Dusun Sublele, Desa Sillu, Kecamatan Fatulehu, Kabupaten Kupang, NTT.

Dengan wajah polos keheranan melihat orang asing, mereka yang sebagian tanpa alas kaki, berlarian menuju sebuah gubuk yang di dalamnya terdapat bangku-bangku kosong.

Ironisnya, gubuk yang sudah disekat menjadi tiga ruangan itu, adalah sebuah ruangan kelas dari Sekolah Dasar Negeri Sublele di Desa Sillu, Kecamatan Fatulehu, Kabupaten Kupang, NTT.

Tak lama kemudian, seorang bapak menyapa. "Yah, beginilah kondisi sekolah kami," kata Osias Tob sembari memperkenalkan diri sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri Sublele.

Didampingi dua guru dari program Sarjana Mengajar di daerah Terluar, Terdepan, dan Tertinggal (SM3T) serta dua guru setempat, Osias menceritakan jika sekolah yang didirikan sejak 2010 itu, masih berupa bangunan apa adanya. Belum ada bantuan dari pemerintah.

Atap dan dinding kelas yang dibangun secara swadaya, masih berupa daun kering yang ditata sedemikian rupa untuk melindungi dari panas dan hujan. Sedangkan dana BOS yang diterima pihak sekolah sebesar Rp 11 juta pertahun, sementara hanya cukup untuk membayar honor tiga guru setempat.

"Itu pun dananya turun tiap triwulan sekali. Jadi hanya cukup untuk membayar honor tiga guru kami yang masih honorer," katanya sembari mengungkapkan jika di sekolahnya terdiri dari dua guru PNS, termasuk dirinya, dua guru dari SM3T dan tiga guru honorer.

Tak jauh dari lokasi SDN Sublele, di desa yang sama, SMP dan SMA Nusa Timur juga demikian. Meski begitu, kondisi sekolah tetap tidak menyurutkan semangat siswa-siswanya untuk menuntut ilmu.

Bahkan 10 dari 28 siswa SMA Nusa Timur, berasal dari kecamatan berbeda. Untuk ke sekolah, mereka harus menempuh sekitar 5 sampai 10 kilometer jauhnya dengan berjalan kaki.

"Setiap hari jalan kaki. Dari rumah saya berangkat pukul 4 pagi. Disini (sekolah, red) enak karena gratis," kata Nerbeam Namah, siswa kelas 12 yang juga mendapat pujian gurunya karena justru tidak pernah terlambat dan alpha di sekolah.

Untungnya, semangat anak-anak yang sekolah di Dusun Sublele, juga diimbangi kegigihan guru pengajarnya. Di tempat yang nyaris belum tersentuh aliran listrik dan pembangunan, mereka justru tanpa komplain.

Seperti yang diungkapkan Sofia Tamelan, Wakil Kepala SMP Nusa Timur, dirinya hanya digaji Rp 350 Ribu perbulan. Sedangkan masing-masing guru, hanya Rp 300 Ribu perbulan. "Kita hanya mengandalkan dana BOS yang turun dari Yayasan Nusa Timur, karena sekolah disini gratis," kata Sofia, alumni Universitas PGRI Kupang.

Menariknya, meski dengan honor kecil, masing-masing guru tetap bertanggungjawab terhadap siswanya. Terlebih ketika menjelang ujian nasional bagi siswa kelas 12 dengan memberi jam pelajaran tambahan.

"Setiap menjelang ujian nasional, kita mes-kan murid-murid di sekolah. Jadi mereka mulai makan, tidur ya di sekolah. Itu kita terapkan hari Senin sampai Jumat, dan hari Sabtu mereka pulang. Untuk makan, anak-anak bawa bekal sendiri dari rumah untuk dimasak di sekolah. Untungnya, kita diberi bantuan solarcell, jadi kita masih bisa belajar malam hari di kantor sekolah," terang Albertus Sabloit, Wakil Kepala SMA Nusa Timur.

Cerita menggugah lainnya juga disampaikan Kepala PAUD Harapan Bangsa di Dusun Tuamnamu. Dengan menggunakan rumahnya yang masih berdinding dan beratapkan Daun Gewang (semacam daun pohon siwalan, red), dirinya rela mengajar anak-anak usia dini sejak tahun 2009.

"Saat itu, masih memakai rumah kita untuk mengajar anak-anak PAUD. Jadi, kalau ada tamu saat mengajar anak-anak ya tamunya tidak bisa masuk rumah," kata Yakoba Nuban, Guru PAUD Harapan Bangsa sembari berterimakasih dengan adanya program Community Outreach Program dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UK Petra dan UK Widya Mandira (Unwira) Kupang yang membuatkan bangunan permanen untuk sekolah PAUD di depan rumahnya sejak tahun 2014 lalu.

Teringat film 'Laskar Pelangi', potret pendidikan yang ada di Desa Sillu, cukup memilukan. Namun ditengah keterbatasan sarana yang ada, tidak pernah menyurutkan semangat pengajar dan anak-anak untuk tetap mengenyam pendidikan. Tapi sayang, sarana dan prasarana pendidikan di Desa Sillu masih jauh dari harapan. Dan bantuan pemerintah, cukup banyak dibutuhkan.

"Kalau perlu, sebelum jadi menteri atau presiden, mereka harus datang ke tempat-tempat seperti ini, di pelosok untuk melihat kondisi masyarakat yang ada. Karena biar tahu, bahwa kondisi ini adalah salah satu kenyataan yang terjadi di Indonesia," sindir salah satu panitia program Community Outreach Program dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UK Petra.

Sumber: beritajatim

0 Response to "Trenyuh Melihat Potret Pendidikan di Pelosok NTT"

Post a Comment

Terima Kasih Telah Berkunjung di Pustaka Pandani
Silahkan komentar anda,


Salam

Irfan Dani, S. Pd.Gr