Loading...

Suka-Duka Guru SM-3T Perwakilan Lampung

Sofia Luthfita 
Mengajar di Sarang Kelelawar hingga Dihampiri Buaya

Program Sarjana Mengajar di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM-3T) merupakan salah satu upaya pemerintah pusat untuk pemerataan pendidikan. Program yang berjalan sejak 2011 ini banyak yang meminati, meski kondisi di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.

Laporan Yayu Suhaesti, BANDARLAMPUNG

APA yang terlintas di benak kita saat mendengar kata sekolah? Siswa-siswi berseragam, buku-buku bertumpuk di atas meja, bendera di tengah lapangan, ruangan kelas berlantai keramik. Namun, jangan pernah membayangkan hal tersebut ada di lokasi mengajar anggota SM3T.


Sebab, banyak tantangan yang harus dihadapi oleh anggota SM3T. Seperti yang dialami Sofia Luthfita, salah satu anggota SM3T perwakilan Lampung. Alumnus Jurusan Ekonomi FKIP Universitas Lampung (Unila) ini mendapat tugas ditempatkan di Desa Tagul, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Sudah hampir tiga bulan berlalu, Sofia mengajar di SMPN 4 Sembakung. SMP itu adalah satu-satunya sekolah menengah yang ada di desa tersebut.

Menurutnya, sekolah itu berbentuk bangunan sederhana yang dinding dan lantainya dari papan. Sementara, bahan atapnya terbuat dari seng. Dalam bangunan itu terdiri tiga lokal. Masing-masing untuk kelas 7, 8, dan 9. Jumlah siswa pun tidak banyak. Hanya 16 orang. Rinciannya lima siswa di kelas 7, enam siswa (kelas 8), dan lima siswa (kelas 9).

’’Sebagian mereka adalah warga asli desa tersebut, tetapi ada juga yang berasal dari luar desa karena di desa mereka tidak ada sekolah. Mereka harus jalan satu jam dahulu dengan melewati hutan untuk sampai sekolah,” ujar putri sulung pasangan Marzuki dan Zubaidah ini yang berkomunikasi dengan Radar Lampung melalui sambungan telepon dari Kalimantan Utara.

Menurutnya, kesadaran akan pentingnya pendidikan di daerah tersebut masih sangat minim. Ditambah lagi dengan kondisi tenaga pendidik yang hanya berstatus honor hingga sering dimutasikan. Kekosongan inilah menjadi salah satu alasan mengendurkan semangat belajar masyarakat desa itu.

Sofia mengaku, mengajar di pelosok negeri merupakan salah satu impiannya. Meskipun di awal tugas, ia sempat mengalami shock lantaran keadaan di lapangan yang memprihatinkan. Namun, perlahan ia mulai dapat beradaptasi. Tidak hanya keadaan saat mengajar, keprihatinan itu juga terbawa dengan kehidupan sehari-hari.

”Jangan bayangin kami di sini belajar seperti di kota. Ada LCD, laptop, akses internet. Sebab, di sini belajarnya hanya pakai buku cetak, itupun buku bekas. Bahkan materi yang diberikan kepada pelajar SMP adalah materi sekolah dasar. Ini menunjukkan kurikulum pendidikan kita memang belum merata. Tapi kami, di sini tidak bisa berbuat banyak,” ungkapnya.

Alasannya cukup logis, karena kehidupan sehari-hari Sofia terisolir. Sebab, tidak setiap saat di tempatnya mendapatkan sinyal jaringan seluler. Bahkan, listrik pun hanya menyala selama enam jam dimulai dari pukul 18.00 hingga 06.00 waktu setempat.

”Kalau mau telepon atau bales SMS harus nempel-nempel tembok dulu. Listrik cuma enam jam, bahkan kalau di sekolah tidak ada listrik sama sekali,” paparnya.

Pengalaman lainnya ternyata di sekolah tempatnya mengajar, masih banyak buaya dan ular. Tidak heran karena lokasi sekolahnya berada di pinggir hutan belantara dan tidak jauh dari sungai. Bahkan di dalam gedung sekolahnya sering menjadi sarang kelelawar.

’’Di sini nggak ada jalan raya. Malah nggak ada yang punya motor apalagi mobil. Warga hanya punya sepeda, itu pun hanya dua atau tiga orang,” tukasnya.

Kendati demikian, Sofia tetap merasa bersyukur karena mendapat kesempatan untuk dapat berbagi ilmu dan pengalaman. Meski terkadang rasa rindu akan keluarga kerap datang, namun tanggung jawabnya akan kelangsungan pendidikan membuatnya bertahan.

Sumber: radarlampung

   
loading...
Loading...
loading...

0 Response to "Suka-Duka Guru SM-3T Perwakilan Lampung"

Post a Comment

Terima Kasih Telah Berkunjung di Pustaka Pandani
Silahkan komentar anda,


Salam

Irfan Dani, S. Pd.Gr

-